Sunday, 22 December 2019

Ibu

menulis di whats app itu cepat hilangnya, dan mama di rumah akan tau apa yang aku tulis dan aku sedang di rumah saat ini, aku bukan anak yang pandai dalam mengungkapkan rasa secara blak blakan sebab itu aku tulis tentang hari ibu disini.


ibu yang aku panggil mama itu adalah..
yang cerewet kalau bicara, yang suka larang larang aku juga, kalau kebanyakan belanja gak perlu. tapi ibu aku adalah orang yang gak akan lelah buat kasih semangat disaat sekeliling terasa menjatuhkan, yang air mata nya akan jatuh gitu aja kalau tau aku sedang kecewa dengan dunia ku sendiri, yang akan siap memelukku saat aku gak tau lagi harus lari kemana saat tangis semakin sulit untuk dibendung, ibu adalah dia yang siap antar aku kemana pun asal mempiku tercapai, asal aku senang, biar lah dia lelah; biarlah entah pulang pakai apa nanti; yang penting anak ku sampai tujuan. mungkin itu lah pikir nya.. ah jadi teringat pada masa itu, akhir tahun di tahun 2016.

akhir tahun yang mengingatkan aku pada perjalanan yang bagaimana pun meski banyak nya cerita di hidupku, tapi pada tahun itu aku merasa hidup ku dimulai kembali. berada di titik ter-nol dari hidup. dan ibu ku berada di garis terdepan, menjadi yang menemani untuk memulai semua nya.
makasih ma, aku nyesel ngebiarin mama pulang gitu aja waktu itu.. aku nyesel gak tau caranya gunaiin ojek online. kedengarannya lucu ya? tapi memang begitu, asing buat ku aplikasi itu saat itu.

beberapa bulan menuju akhir tahun 2016 hingga pertengahan tahun 2017 adalah tahun-tahun dimana boleh boleh saja kalau disebut tahun yang cengeng, tahun yang membuat aku jatuh berulang bangkit berulang, tahun dimana aku menemukan mimpi itu apa, tahun yang mengenalkan tentang artinya teman seperjuangan itu apa, tentang caranya hidup mandiri dan pelajaran pelajaran lain yang sebelum itu aku buta tentang itu semua.tapi ibu, adalah yang selalu ada dari seberang telfon saat aku jauh dari rumah dan yang lengannya tak lelah memeluk saat pulang adalah satu satunya jawaban.

jadi mungkin itu juga lah sebab kenapa 2 tahun belakangan ini jadi yang gak gampang cengeng, entah karna hatinya sudah terlatih atau sudah mati. padahal tau itu sedih, itu nyakitin, tapi yasudah tak sampai hati untuk menjadi tangis.lagi.

sekarang murni jadi anak rantau, meski sebelumnya memang sudah terlatih jauh dari rumah. tapi sekarang beda, gak bisa setiap saat kasih kabar orangtua lewat telfon.
jadi.. meski bukan lagi yang bisa hadir di saat saat butuh dukungan secara langsung, setidaknya aku tau; aku yakin sekali tiap kali ada yang melukai atau ada masalah yang aku cemaskan, aku ingat ada yang mendoakan tentang kebahagiaanku dan jalan keluar untuk setiap masalah yang aku hadapi. dan aku selalu yakin kalau doa itu lebih kuat dari apa pun,  doa adalah obat dari segala jenis luka juga kecewa.


Mungkin;
Bisa jadi mereka yang salalu aku banggakan karna selalu hadir dalam waktu ku itu, adalah hasil dari doa ibu di rumah yang takut kalau aku sendirian.

Makasih ma.
ibu, ibu, ibu.papa.
papa
papa

biar adil, karna sama istimewa nya.
terlepas dari apa kata Rasulullah

0 comments:

Post a Comment