Oke oke gue come back, karena gue menunggu dan berharap datangnya soal pkn dari kiki yang tak kunjung hadir, akhirnya gue kembali disini sambil menantikan soal pkn ! -_- walau
selisih tulisan gue hanya berjarak dua hari yang sebenernnya gue pengen banget
anti mengetik di akun jejaring sosial beberapa minggu gitu atau bahkan bulanan
gitu off itu ternyta, selalu mengalami gagal juga, karna ternyta alesan Cuma satu hal yang
dapat menghentikan gue jauh jauh dari medsos adalah pulsa itu sendiri, ohh sungguh tragis -__-
Ngomong ngomong tentang on dan
off gue yang gak terlalu penting itu gue akan mengalihkan pembicaraan (numpang
numpang, mas om numpang)
Hari ini, oh tidak tepatnya malam
ini! oh gak gak lebih tepatnya beberapa kali atau yah dalam setahun sudah
beberapa kali gue mencari tahu di mbah eyang kakung gue, yaitu si Google dengan
key word “sahabat”.............emmmmmeyammm K
gue mauk menulis ini, gue entah yah sebenernya punya atau kagak sih sahabat? Pertannyaan
itu kadang suka muncul dibenak gue, dan kadang otak dan fikiran gue begitu
labil dengan pernyataan yang bukan disebut pertannyaan itu #ceilehBahasaGue
Bukan apa yah, mereka bilang gue
sahabat mereka. Tapi, herannya gue suka gak jawab ataupun membalas omngan
mereka. Gue cuma bisa komen senyum doang.
Gue juga gak tau kenapa gue hanya
bisa begitu, dan herannya mereka suka kesel kalo gue gak membalas dengan kata
kata yang serupa, gue cuma bisa mengatakan hal yang sama, selalu begini bigitu
saja balasan gue “ buat apa sih saya bilang kamu sahabat atau menyebut dia sahabat
saya, toh nyatannya sahabat gak sesederhana yang kamu katakan, lihat sahabat
banyak yang bubar karna terlalu gampangnnya menentukan sahabat yang belum tentu
bisa dikatakan demikian”
Tapi malam ini dan kali ini, gue
membaca salah satu blog di wordpress.. tulisan dia hampir bisa menjawab maksud
dari entri entri gue yang pernah gue tulis dulu, misal contoh seperti kalimat
diatas tadi yang selalu sering dan familiar gue tulis di blog ataupun ucapan. Dia
bilang eh salah dia menulis, yang intinnya gue perjelas menjadi seperti ini
-> “gak perlu gue bilang siapa lo, siapa sahabat gue, atau siapa temen gue
karna lo tahu siapa diri lo” tep! Itu yang tepat, sekian lama gue nge-entri
baru ketemu maksud penjelasan tulisan gue, kalo ada yang pernah baca tulisan
gue yang “sahabat ?” pasti tahu lah.
Tapi itu dulu, dan karena tulisan
di wordpress itu yang baru gue temukan sekarang itu. Eh ini ataupun itu.
#sudahlah
Gue sekarang memutuskan begini, bersahabatlah dengan orang yang menganggap mu sahabat!
Karena sebaik baiknnya orang,dan
secapek capeknya berlari pada ujungnnya selalu kembali pada putaran pertama. Jadi?
Entahlah gue juga gak tauk maksudnnya, gue Cuma menulis supaya rada keren aja
-__-
Gue mauk bertannya, apakah seseorang
yang mengatakan tentang apakah ini itu tentang sahabat hanya dalam tulisan jejaring
sosial adalah sahabat yang sebenarnnya?
Atau itu hanya sahabat “semu”. Dan
“semu” itu kan berati maya dan “tidaklah jelas” ?
Jadi jawabannya adalah “Bukan”?
begitukah?
Lalu bagaimana dengan tipikal
tipikal seseorang yang hanya bisa berani mengatkan maksudnnya lewat tulisan? Apa
mereka juga palsu? Lalu lalu, mungkin ia merasa agak ragu ragu tentang
menganggap siapa dia? Pantaskah mengucapnnya sahabat, yang mungkin saja
dirinnya tak dianggap sahabat oleh orang tersebut?
Dan lalu bagaimana dengan
seseorang yang tak pernah bisa dekat dan jarang bercengkrama seperti teman
teman lain yang kita miliki? Tapi sebetulnya selalu yang dianggap jauh itu
adalah teman terbaiknya?
Emm, apakah yang ada disekeliling
saya dan sekitar kita itu baru bisa diucap sahabat?
Karena terkadang
posisi sahabat itu sendiri lebih sering tergantikan oleh teman disamping kita.
Teman yang disebelah atau didekat
kita, terkadang lebih cepat tahu tentang kita. Dibandingkan dengan sahabat yang
mungkin jarang bertemu atau tempat mereka lebih jauh dan sulit dijangkau jika
hanya perlu untuk bercerita.
Jadi, jadi bagamana ini? Sungguh saya
sudah sering mencari tahu apa makna sahabat yang sesungguhnnya itu, dan saya
selalu menemukan jawaban yang begitu begitu saja, jawabannya tak selalu sama
seperti anggapan ku, saya menganggap tulisan yang mereka tulis, yang mereka
jelaskan sebagai apa itu sahabat, bagaimana itu sahabat,dan seperti apa ini dan
supcupruputcuap@#$%^&*()$$##ahh....
“selalu ada, mengerti ini itu dan
blah..blah..blah...” sungguh sungguh saya bosan dengan jawaban seperti itu itu saja,
saya menggap tulisan mereka terlalu berlebihan terlalu dibuat buat, tak
natural, karna saya berfikir tulisan mereka adalah awang awang mereka, impian
kalimat yang diinginkan, seswatu yang tak dimiliki tapi dianggap ada, nah dan seswatu yang tak ada itu yang mereka anggap dan mereka tulis
sabagai arti dari sahabat (kebalikannya) yah hampir sama seperti sistem
pembuatan novel lah.
Atau memang begitu sahabat? Seperti
yang dituliskan mereka kebannyakan itu? Tapi kenapa sulit sekali mencari tiikal
tipikal seperti dalam tulisan mereka? Uhh #jatohinDagu
Oleh karena itu, saya lebih
menyukai penjelasan tulisan sehari hari seseorang di dalam sebuah blog, yang
kebutulan blognya adalah untuk milik pribadi bukan sebagai konsumsi publik yang
bertujuan seperti sebagai “key word” dalam searching google.
Karena dari dalam blogger, dengan
penulis, pencerita tentang sekelilingnnya itu lebih sering atau lebih banyak
menciptakan hal yang lebih terlhat real dan natural.
Saya punya
persepsi sendiri mengenai makna dan apa itu sahabat, yang tak sama seperti
kalimat kalimat memuakkan dalam google.
Saya punya bahasa sendiri,menurut
saya, yang sesuai dan sesederhana fikiran saya.
Saya berfikir,
sahabat timbul dari hati bukan dari alasan lain.
Saya memutuskan dan memilih untuk
bersahabat yang entah mengapa itu dikatakan oleh hati saya, mengatakan mereka
yang terbaik lalu saya menunjuk nya sahabat. Lagi lagi, saya tak perlu
mengatakannya kamu sahabat saya, karna menurut saya kita selalu tahu jawabannya
yang kadang tanpa perlu berbicara. Karna yang terlalu sering berbicara nyata
itu belum tentu senyata ucapannya.
Mereka bilang saya sahabatnnya,
tapi mereka membenci saya ketika saya sedang unmood?
Mereka bilang saya sahabatnnya,
tapi mereka tak pernah suka tujuan saya.
Mereka bilang saya sahabatnya,
tapi selalu merendahkan angan dan impian saya.
Saya tahu, kamu teman saya. Bukan
sahabat saya. Kamu salah menganggap apa sahabat dan apa itu teman. Kamu yang
mengatakan demikian, karena kamu belum bisa memaknai maksudnya, belum paham dan
belum terlalu mengerti arti tentang persahabatan itu sendiri #huftt
Jadi tidaklah salah bukan, jika saya
menganggapnya teman?
Saya mungkin
bisa begitu dekat dengan teman teman saya, saya mungkin memiliki begitu banyak
teman, tapi mereka belum tentu sahabat saya..
Teman
menurut dan persepsi saya adalah, seseorang atau mereka yang hanya mungkin bisa
menerima saya karena kelebihan saya, yang harus tanpa cacat, yang harus
dituntut sesempurna mungkin, yang harus selalu terlihat ceria tanpa masalah
dihadapan mereka. Well, mereka adalah tempat dimana
adannya kebahagian, yang belum tentu bisa menerima saya disaat saya sedang tak
selalu bisa menampilkan wajah yang good mood. Apakah mereka palsu? Kita punya
jawaban masing masing.
Karena menurut saya,
sahabat itu gak bisa saya definisi, gak bisa saya jabarkan dengan kalimat
kalimat, karena semuannya memang bukan berasal dari teori teori yang bisa dijelaskan
dengan jawaban yang pasti, karena semua jawaban untuk persahabatan itu sendiri
adalah semua anggapan yang timbulnnya menurut pribadi masing masing. Pakai organ
hati, tidak sepertinnya teori hati itu salah :/ jantung sepertinnya,
karena saya rasa hati saya tak pernah bekerja untuk memilih atau menunjukan
adanya feeling mengenai seswatu, jantung lebih aktif
dan lebih peka terhadap rangsangan K
Oke baik baik, karena gue sudah
terlalu banyak menulis. Gue mauk bikin kesimpulan aja!
Memang kita maunnya dimengerti,
dan dipahami tanpa harus berbicara. #BiasaManusiaMemangBegitu -__- mungkin kita
maunnya, tanpa harus ngomng kita maunnya dia sudah mengerti maksud kita.
Tapi terkadang kita perlu mengatakannya secara langsung dan
memberitahunnya secara langsung “dia sahabat saya” supaya dia tahu siapa
dia,posisi dia, tanpa harus mungkin ia menebak nebak tentang posisinya.
Dan endingnnya, saya punya teman
terbaik itu.
Dia mengerti saya, saya bisa
menjadi diri saya sendiri.
Diamana saya
bisa merasakan kebebasan, yang mana tak perlu merasa canggung ataupun malu malu
ketika saya bermain kerumahnnya, tanpa harus malu malu minta makan jika
kelaparan, bersikap biasa saja ketika bertemu orang tuannya. Dan tak pernah
memandang siapa dia, bagaimana latar belakangnnya, karena yang saya tahu saya
bersahabat bukan memikirkan ini dan itu, saya bersahabat karena saya
menganggapnya ia terbaik.
Jujur gue awal masuk menulis
disini tanpa inspirasi, tanpa pendalaman cerita difikiran, awalnya iseng iseng
nulis doang eh gara gara nulis pake musik jadi ikutan berkutat ini emosi
nulisnnya. Oh iya satu lagi, pada akhirnnya sahabat akan terus terganti, oleh
seswatu yang dekat. Teman baru misalnya, ditempat yang ia huni sebagai seswatu
tempat yang ia tinggali sekarang, dimana itu adalah tempat ia lebih sering
berjumpa dan bersama dengan orang yang sama(tapi bukan orang yang dulu) saling
berbagi yang kemudian saling menemukan kecocokan satu dengan yang lainnya.
#enaknyaPakeEmotApaYa K
Oh oh ternyata gue belum kelar
mengakhiri tulisan ini karena masih ada yang masih pengen gue tulis.
Gue sudah mulai jenuh menulis
tentang seswatu yang maya, teman dunia maya dan terakhir.. luna maya *loh -.-
Yang pasti menurut gue, maya itu
semu belum pasti, dan gue juga belum terlalu kenal dunia yang terlalu penuh
dramanya ini, karena dunia maya, saya hanya bisa
menebaknnya hanya lewat sejemput bait bait kalimat tulisannya, dan
didalam tulisan yang terketik itupun saya tak pernah tahu bagaimana cara ia
menulisnnya, bagaimana ekspresinnya, bagaimana sesungguhnya perbandingan antara
tulisan dan hal yang nyata nya.
“Tapi kan ada webcam, sekarang
kan medsos uda canggih?”
Sama ajah, gue belom punya akun
yang begitu, karena gue masih pengguna yang salah gaul.
Yang Cuma bisannya nulis, dan kadang tulisannya suka kagak bener, dan gue Cuma bisa
menulis satu jenis tulisan, serius. Itu jenis tulisan gue, yang gak pernah bisa
nulis kocak dan selengek’an ._.

0 comments:
Post a Comment