23 oktober 2013.
Cukup. Ini kedua kalinya saya merasa mendapat masalah dengan
guru ini.
Dia guru Bahasa Indonesia saya.
Karna saya malas menceritakan detail kronologisnya. Mari saja
saya beritau intinnya.
*flashback*
Hari itu saya dipanggil kekantor, ibu itu menyuruh saya
menceritakan tentang kronologi kecelakaan yang menimpa saya. Saya
menceritakan-nya dengan apa ada-nya, tapi seketika ibu itu malah membentak
saya. Saya mulai merasa kebingungan.
Dia membentak dikarenakan Ia tak menyukai cara saya yang berbicara
sambil menggerakan tangan.
Ay, benar-benar.
Berbicara dengan seperti itu memang kebiasaan saya sejak
dulu. Alhasil semua guru makin geram karna saya sempat memotong pembicaraannya
sebagai respon penolakan saya terhadap kata-katanya.
Semua topic awal sudah beralih.
Nada bicara saya sudah mulai menggetir, dan bodohnya
lagi-lagi saya melakukan kesalahan, saya salah pemilihan kata ketika saya
berbicara pada guru bahasa ini.
Cocok! Saya memang tolol, berani berkata pada manusia yang
ahli bahasa yang baik.
*flashback end*
Jujur, terlepas dari masalah apapun. Sebenarnnya dia adalah
salah satu guru tegas yang paling saya senangi, sejak pertama kali pertemuan
dengannya. Cara nya yang tegas dan semua cara Ia bersikap membuat saya suka
akan ajarannya.
Tulisan itu terhenti dihari itu. Dan kini
tanggal 10 januari 2014 akan saya lanjutkan kembali tentang catatan ini.
Aku sudah lupa akan masalah apalagi
yang ingin aku ceritakan pada catatan ini pada hari itu.
Yang aku tau, aku hanya ingin
melanjutkan tulisan ini dengan cerita yang aku alami selama catatan ini sempat
terhenti tanpa tau puncak inti yang ingin aku tulis dihari itu.
Masih dengan bahasan yang sama.
Baiklah, langsung saja akan aku
mulai.
Guru ini, membuktikan kata-katanya. Bahwa nilai tak pernah
ikut andil degan masalah pribadi.
79.itu nilai rapor ku. Bukan diawali dengan angka 8 memang,
tapi itu bukanlah angka yang buruk. Itu angka yang bagus untuk semester awal
ini, aku harap angka 80 akan aku dapat pada semester kedua ini.
Sepertinnya aku tak salah mengagumi sifat dalam nya ini,
meski kadangkala air mukannya membuatku bergidig gemetar atau kadang membuat
jantungku berdetak kencang dengan kejutan-kejutan yang mampu membuat ku takut
ketika menghadapinnya yang kadang membuatku menunduk pengecut dihadapnya.
Tapi semua itu tak pernah luntur untuk tetap kagum dengannya.
Guru terbaik didalam bungkus kulit durian.
Terimakasih atas pembuktianmu,
Terimakasih atas semua yang kau hargai tentang ku, semua
hal-hal kecil yang bagi ku itu berharga, tidak. Bahkan itu berarti besar untuk
anak yang katannya masih punya otak kecil ini.
Semoga rasa kagum ini tak pernah pudar.semoga.
Dan semoga aku bisa menjadi wanita tegas, tangguh sepertimu.
Terlalu banyak puji dicatatan ini bahkan mungkin sampai mampu
terdengar memuakan untuk kau dengar ataupun kau simak. Tapi sekali lagi,
terimakasih banyak.

0 comments:
Post a Comment