Saturday, 11 January 2014

ting-tong



23 oktober 2013.
Cukup. Ini kedua kalinya saya merasa mendapat masalah dengan guru ini.
Dia guru Bahasa Indonesia saya.
Karna saya malas menceritakan detail kronologisnya. Mari saja saya beritau intinnya.

*flashback*
Hari itu saya dipanggil kekantor, ibu itu menyuruh saya menceritakan tentang kronologi kecelakaan yang menimpa saya. Saya menceritakan-nya dengan apa ada-nya, tapi seketika ibu itu malah membentak saya. Saya mulai merasa kebingungan.
Dia membentak dikarenakan Ia tak menyukai cara saya yang berbicara sambil menggerakan tangan.
Ay, benar-benar.
Berbicara dengan seperti itu memang kebiasaan saya sejak dulu. Alhasil semua guru makin geram karna saya sempat memotong pembicaraannya sebagai respon penolakan saya terhadap kata-katanya.
Semua topic awal sudah beralih.
Nada bicara saya sudah mulai menggetir, dan bodohnya lagi-lagi saya melakukan kesalahan, saya salah pemilihan kata ketika saya berbicara pada guru bahasa ini.
Cocok! Saya memang tolol, berani berkata pada manusia yang ahli bahasa yang baik.

*flashback end*
Jujur, terlepas dari masalah apapun. Sebenarnnya dia adalah salah satu guru tegas yang paling saya senangi, sejak pertama kali pertemuan dengannya. Cara nya yang tegas dan semua cara Ia bersikap membuat saya suka akan ajarannya.

Tulisan itu terhenti dihari itu. Dan kini tanggal 10 januari 2014 akan saya lanjutkan kembali tentang catatan ini.

Aku sudah lupa akan masalah apalagi yang ingin aku ceritakan pada catatan ini pada hari itu.
Yang aku tau, aku hanya ingin melanjutkan tulisan ini dengan cerita yang aku alami selama catatan ini sempat terhenti tanpa tau puncak inti yang ingin aku tulis dihari itu.
Masih dengan bahasan yang sama.
Baiklah, langsung saja akan aku mulai.

Guru ini, membuktikan kata-katanya. Bahwa nilai tak pernah ikut andil degan masalah pribadi.
79.itu nilai rapor ku. Bukan diawali dengan angka 8 memang, tapi itu bukanlah angka yang buruk. Itu angka yang bagus untuk semester awal ini, aku harap angka 80 akan aku dapat pada semester kedua ini.
Sepertinnya aku tak salah mengagumi sifat dalam nya ini, meski kadangkala air mukannya membuatku bergidig gemetar atau kadang membuat jantungku berdetak kencang dengan kejutan-kejutan yang mampu membuat ku takut ketika menghadapinnya yang kadang membuatku menunduk pengecut dihadapnya.
  
Tapi semua itu tak pernah luntur untuk tetap kagum dengannya.
Guru terbaik didalam bungkus kulit durian.
Terimakasih atas pembuktianmu,
Terimakasih atas semua yang kau hargai tentang ku, semua hal-hal kecil yang bagi ku itu berharga, tidak. Bahkan itu berarti besar untuk anak yang katannya masih punya otak kecil ini.
Semoga rasa kagum ini tak pernah pudar.semoga.
Dan semoga aku bisa menjadi wanita tegas, tangguh sepertimu.
Terlalu banyak puji dicatatan ini bahkan mungkin sampai mampu terdengar memuakan untuk kau dengar ataupun kau simak. Tapi sekali lagi, terimakasih banyak.



0 comments:

Post a Comment