Menerka semua curiga
yang jadi pendukung atas petunjuk kebenaran yang baru terpahami.
![]() |
| my expression, onghh -_- |
Ketika semua masalah itu sudah
tepat berada dihadapan.
Semua kecurigaan yang terabaikan
selama ini akan tiba-tiba tersusun acak kebelakang, membentuk curiga yang terasa
semakin nyata.
Katannya “Semua akan baik-baik aja”
Katannya “Semua harus disantain”
Katannya “Sabarin aja”
Katannya “Semua masalah pasti terlewat”
Katannya “Memasa bodok-an” adalah cara melepas beban
fikiran.
Katannya, katannya, katannya semua!
Tapi, masalah gak pernah segampang itu untuk dilupain, gak
semudah itu untuk diabaikan. Setidaknnya itu yang selalu jadi masalah untuk
orang yang terlalu over thinking kayak gue.
Masalah dateng tiba-tiba, gak perduli itu kecil atau besar,
masalah selalu bisa bikin kita glabakan nerimanya.
Membuat badan kaku terdiam tanpa pernah bisa lo kendaliin
ketegangannya.
Semuannya menjalar gitu aja keseluruh tubuh. Dan.. tarikan
nafas panjang adalah pertanda penetralan diri dari ketidakrileksan yang
bergelayut didalam diri.
Kenapa kata-kata biasa bisa menjadi begitu dalam maknanya ?
Kenapa kalimat yang diucap dalam tatanan biasa, bisa menjadi
begitu menusuk jantung ketika diucapkan dengan bahasa tubuh dan keyword yang
tepat ?
Kenapa?!
Dan kenapa harus pakai sindiran ?
Kenapa gak tanya langsung dan dengar kenyataan sesungguhnnya
?
Kenapa manusia senang membiarkan hidup dengan asumsi-nya ?
Kenapa gak pernah mauk tanya ? kenapa ?!
Gak semua orang yang lo katakan dengan cara menyindir itu
selalu benar seperti yang lo katakan. Ya okelah mungkin benar, tapi itu hanya
sepotong kebenaran, yang jika didenger akan menjadi salah.
Kalo aja lo tauk semua potongan kebenerannya, itu bisa jadi
bukti bahwa pernyataan lo gak sepenuhnnya bener, dan itu artinnya subjek yang lo
bicarakan gak sepenuhnnya salah.
Untuk menjadi kenyataan yang bener-bener real kan
seharusnnya lo menggabungkan kesemua potongan-potongan kebenaran itu.. bukan
Cuma ambil sepenggal lalu menyimpulkan, itu gak fair.
Ini keluhan saya, untuk kamu.kakak kelasku.


0 comments:
Post a Comment