Angin menghembuskan nafas nya, melengos dari sehelai rambut hitam pasih.
satu berita, meluntuhkan jantung hingga tanah. menjatuhkan segala dedaun dari pucuk pohon pala. kaki kaku tak mampu meniti aspal.
sesudah hari itu kau tak mampu berkata, batu obsidian tersangkar dalam trakea mu.
mata mu adalah pantomim terlucu yang pernah tercipta, dan aku adalah penikmat pertunjukan terkonyol dunia.
wajah lusuh yang sengaja kau bungkus kau ajak mencari tempat tertawa, agar segala sesap melesat dari dunia mu.
kau cerita bahwa menemukan tempat penampung luka itu adalah perkara mudah, tapi menemukan tempat dimana segala kenyamanan berada entah pada siapa. jelas bukan untuk aku, kata ku.
Rupa nya, bukan cuma kau yang tersiksa, rupa nya jadi yang memahami tapi tak kuasa harus apa adalah siksa yang sama.
Ratusan minggu kau simpan segala perkara, ribuan hari aku masih menanti kedatangan untuk dipercaya, saat segala percaya adalah tempat yang aku pulangkan pada mu.


0 comments:
Post a Comment